Permen Ajaib (Versi Cerpen) – Komik Doraemon Volume 10 (From Komik Cerita Spesial Giant)


Nobita yang baru pulang sekolah memasuki kamarnya. “Halo! Aku sudah pulang,” sapanya. Tapi suasana sepi dan tidak ada siapa-siapa, termasuk Doraemon. “Lho, Doraemon kemana? Dia kan sudah janji mau ikut final lomba tatap-tatapan mata setelah aku pulang.”
                Akhirnya, karena Doraemon tak ada di tempat, “Kalau begitu aku tidur siang saja sendiri,” Nobita pun memutuskan. Namun, baru mau memejamkan matanya, terdengar suara Doraemon yang entah dari mana arah suaranya. “Nobita, pasti kamu sudah pulang dan segera tidur siang.”
                “Eh, ternyata ada Doraemon,” pikir Nobita.
                “Aku sedang ada masalah dan harus pergi, jadi wajarlah aku tak ada di sini. Semua kumpul di lapangan untuk mengadakan rapat,” suara Doraemon pun terus terdengar. Nobita mencari-cari Doraemon dimana-mana, di bawah meja, di tempat tidur, namun hasilnya nihil. Suara itu pun terdengar lagi, “Kalau sempat kamu datang juga, ya. Aku sebenarnya tak ada di sini. Suara ini adalah suaraku 30 menit yang lalu.”
                Dengan keheranan Nobita lalu keluar menuju lapangan mengikuti apa kata suara Doraemon itu. “Apa gerangan yang terjadi? Dia bilang ada rapat di lapangan?” Namun, ketika ia tengah melangkah menuju lapangan, tiba-tiba ia menemukan Doraemon yang berjalan terhuyung-huyung dengan kondisi tubuh babak belur.
                “Rapatnya?” tanya Nobita.
                “Sudah selesai. Tepatnya sudah dibatalkan.”
                Mereka lalu membahas apa yang terjadi sebenarnya di dalam kamar Nobita.
                “S**l! Tolong dengarkan!” Mulailah Doraemon menjelaskan dengan gamblang apa yang sebenarnya terjadi. Suneo beserta Doraemon, Shizuka, dan satu orang lainnya berkumpul di lapangan untuk membahas sesuatu.
                “Teman-teman, tolong dengarkan! Aku telah mendengar isu gila! Setelah sekian lama, katanya Giant akan mengadakan resital lagi,” kata Suneo. Spontan hal ini mengagetkan ‘peserta rapat’ lainnya, termasuk Doraemon. “HAAH?”
                “Suara yang sangat sumbang...” ujar teman mereka yang lain itu.
                “Hanya mendengar saja rasanya ngeri dan mau muntah,” kata Doraemon.
                “Pastu kita disuruh mendengarkannya terus selama berjam-jam!” pikir Shizuka. Suneo pun lalu melanjutkan ‘orasi’-nya.
                “Karena itu aku akan mendiskusikannya dengan kalian. Mungkin kita bisa berbuat sesuatu.” Tak sengaja Giant lewat dan mendengar pembicaraan itu. Tapi Suneo tetap saja berkoar-koar dan malahan bertanya, “Apa tak bisa kita menghentikan Giant yang merepotkan ini?” Mendengar pertanyaan tersebut, Giant emosi. Doraemon dan yang lainnya pun melihat Giant yang wajahnya sudah marah dengan was-was.
                Singkat cerita, semua peserta rapat kecuali Shizuka babak belur dihajar Giant akibat hal itu.  Mereka semua pun jatuh ke tanah. Akhirnya, daripada memperpanjang persoalan, mereka pun berkata, “Giant! Kami akan menunggu dengan gembira resitalmu.”
                “Baiklah!” jawab Giant sambil melepaskan singsingan lengan bajunya setelah puas menghajar mereka.
                Kembali ke diskusi di kamar Nobita. “Katanya besok. Dia akan nyanyi selama 3 jam.” Kontan saja hal ini membuat Nobita kaget bukan kepalang.
                “Disuruh dengar selama 3 jam, bisa mati aku! Tak bisakah kamu berbuat sesuatu?”
                “Hmm... tak ada mesin untuk menghentikan nyanyian,” pikir Doraemon. Tiba-tiba pikiran Nobita melayang ke sesuatu yang baru saja terjadi.
                “Yang tadi itu apa? Suara yang ada di ruangan,” tanyanya.
                “Ooo... itu? Permen ajaib! Permen yang membuat suara terdengar belakangan,” kata Doraemon sambil menunjukkan permen yang dimaksud. “Kalau makan satu, 10 menit,” ujarnya sambil memakan permen itu. Sesudah makan permen itu, Doraemon mengatakan sesuatu yang tak bisa didengar oleh Nobita.
                “Kamu ngomong apa, sih? Aku tak dengar,” tanyanya. Bukannya menjawab, Doraemon malah keluar ruangan. “Hei, belum selesai ngomong, kamu mau ke mana? Aneh!” Tiba-tiba muncul suara Doraemon dalam ruangan itu, “Suaranya akan terdengar kemudian, tahu!”
                “Itu kan, suara Doraemon?”
                “Itu yang kukatakan 10 menit yang lalu,” ujar Doraemon dari luar ruangan, tepatnya di depan pintu kamar.
                “Wah, ini bagus! Kalau kita pakai permen ini, makan kita bisa tak mendengar suara Giant,” usul Nobita.
                “Hmm... betul juga!”
                “Sebelum dia nyanyi, gimana kalau kita suruh dia minum kira-kira 20 biji?” tanya Nobita sambil memakan permen itu.
                “Karena tahan selama lebih dari 3 jam, maka selama resitalnya kita tak akan dengar suaranya.” Doraemon pun ikut memakan permen itu lagi. Sesudah itu, Nobita dan Doraemon pun saling mengobrol dan bersenda gurau, tapi tak terdengar.
Tiba-tiba muncul Ibu Nobita memberitahukan sesuatu dengan senang. “Hei, kalian, tolong dengar sebentar! Ibu sudah membentuk vocal group bersama ibu-ibu tetangga. Nanti kami akan pentas.” Dengan merdu Ibu Nobita bernyanyi, “Sungai Sumida di musim semi yang ceraaah...”
“Bagaimana? Jangan segan-segan berikan komentar kalian,” kata Ibu Nobita. Dengan senang Nobita dan Doraemon memberikan komentar, namun, “Apa? Aku tak dengar?” tanya Ibu. Mereka masih berada di bawah efek permen itu sehingga tak terdengar komentar mereka.  Tiba-tiba muncul suara yang berasal dari senda gurau Doraemon dan Nobita sebelum Ibu datang tadi.
“Dengar suaranya saja sudah muak.” “Aku tak sangka di dunia ini ada nyanyian sumbang yang nggak kira-kira seperti itu.” Spontan mereka semua, termasuk Ibu kaget. Ternyata, sebelum ibu datang tadi, Doraemon dan Nobita sedang asyik menyindir Giant! Bukannya berhenti, suara itu malah terus terdengar. “Ingin rasanya berbuat sesuatu agar kita tak mendengarnya.” Suara yang terakhir itulah yang akhirnya membuat Ibu emosi. Doraemon dan Nobita pun berusaha mengelak, namun akhirnya Ibu malah memukul kepala mereka berdua. Saat Ibu meninggalkan mereka setelah selesai memukulnya –demi kebaikan– dengan emosi, baru terdengar lagi suara, “Waah, lagu yang Ibu nyanyikan bagus, ya.” Suara itu adalah pujian yang dilontarkan oleh mereka ketika dimintai komentarnya oleh Ibu sebelum terdengar suara sindiran tadi.
Esok harinya, hari pementasan Giant pun tiba. Di spanduk yang terpasang di bagian atas pintu masuk tertulis begini:
BERNYANYI
BERSAMA GIANT
LOKASI RESITAL GODA TAKESHI
TIKET MASUK GRATIS
Sepanjang jalan menuju lokasi resital, banyak anak-anak yang hadir dengan muka cemberut dan tak bahagia.
“Sudah kusumpal telingaku,” ujar Suneo kepada Shizuka sambil menunjukkan telinganya yang disumpal.
“Kalau ketahuan dia, bisa dibunuh kamu!” jawab Shizuka.
“Memang sudah kuputuskan untuk siap mendengarkannya,” kata anak yang kemarin ikut rapat dengan Doraemon, Suneo, dan Shizuka sambil menangis.
Berbeda dengan anak-anak lainnya, Doraemon dan Nobita merasa tenang-tenang saja karena mereka sudah mempunyai penangkal terhadap masalah yang akan mereka hadapi. Dan, pementasan pun dimulai!
Di tempat duduk penonton, emosi anak-anak lainnya tak banyak berubah, masam, kesal, dan bermuram durja, dan Doraemon serta Nobita tersenyum lebar. “Begitu banyak yang datang untuk mendengarkan laguku. Para hadirin adalah dewaku,” puji Giant di atas panggung.
“Ya... ya... kami telah menunggumu,” Nobita dan Doraemon sok antusias sambil tepuk tangan.
“Kalian adalah orang-orang yang mengerti seni,” Giant pun terharu.
“Huh, memujinya berlebihan,” Shizuka dan yang lainnya kesal.
Tiba-tiba Nobita menawarkan Giant permen ajaib yang dimaksud kemarin, dengan dalih sebagai permen yang berguna bagi seorang penyanyi.
“Apa? Permen yang membuat suara menjadi bagus?” tanya Giant.
“Silahkan makan kira-kira 20 butir,” Nobita pun lanjut menawarkan.
Tiba-tiba Giant malah mengambil wadah berisi permen-permen itu. “Jangan batasi hanya 20 butir, aku minta semuanya.” Giant melahap habis permen-permen tersebut. Padahal Nobita sudah berusaha untuk membatasi hanya 20 butir saja. Hal ini membuat Doraemon, Suneo, Shizuka, dan teman-teman lainnya tercengang-cengang.
Resital Giant pun sebentar lagi. “Akan segera dimulai,” kata Shizuka.
“Tundukkan kepala, tarik napas, jangan sampai pingsan,” sugesti anak yang ikut rapat kemarin kepada dirinya sendiri.
Giant pun bernyanyi, dan semua anak-anak yang menonton pun kaget karena Giant tidak mengeluarkan sepatah kata pun, walaupun tengah menunjukkan performanya. Kecuali Doraemon dan Nobita, mereka tenang-tenang saja, toh ini semua ide mereka bukan?
“Lho... lho...”
“Giant kelihatannya begitu semangat nyanyi...”
“Tapi tak terdengar apa-apa?”
Mereka semua keheranan. Namun, akhirnya malah menjadi kebahagiaan bagi para penonton resital.
“Untung...” kata Suneo.
“Kalau begini, berapa jam pun tak ada masalah,” ujar Doraemon.
“Bagus! Bagus! Teruskan!” sorak sorai Nobita, Shizuka, dan penonton lainnya. Semua bersorak gembira merayakan tak terdengarnya suara Giant.
Namun, cerita belum berhenti sampai disitu. Malam sesudah pementasan itu, kira-kira jam 2 tengah malam, efek samping dari permen itu mulai muncul!
“PAM! PAM! PAM! Parade hits Goda Takeshi dimulai dengan meriah!” Suara yang harusnya terdengar saat resital tadi sore malah terdengar sekarang! Nyanyian sumbang Giant pun membahana dengan volume tingkat tinggi. “Kalau aku bernyanyiiii... semua anak akan berpaling‼”
Nyanyian itu terdengar di panggung yang tadi sore dipakai oleh Giant untuk bernyanyi. Hal ini mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar yang sedang beristirahat di tengah malam. Mereka pun keluar dan berkumpul untuk mencari tahu siapa sang empunya suara itu tepatnya di jalan depan rumah Nobita.
“Tengah malam begini nyanyi dengan suara keras selama 3 jam? Keterlaluan!” protes salah satu warga.
“Suara itu adalah suara ketua anak nakal yang bernama Giant!” warga lainnya ikut marah.
“Yuk, kita protes dia sama-sama!” warga lainnya pun kesal.
Doraemon dan Nobita yang ikut terbangun pada malam itu hanya bisa melongo menyaksikan apa yang terjadi dari kamar Nobita. SIngkat cerita, warga pun lalu memprotes beramai-ramai Giant yang dianggap –memang– mengganggu.
Source: Fujio, Fujiko F. 2004. Cerita Spesial Doraemon 10 – Giant. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

1 komentar:

  1. http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/pentingnya-membuat-perjanjian-sebelum.html http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/trik-nabung-dp-rumah-sambil-mengontrak.html http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/restoran-indonesia-ini-raih-pujian-dari.html http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/4-film-horor-ini-dihantui-kutukan.html http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/pacar-lulus-sekolah-pilot-aurel.html
    Tunggu Apa Lagi Guyss..
    Let's Join With Us At Dominovip.com ^^
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami :
    - BBM : D8809B07 / 2B8EC0D2
    - Skype : Vip_Domino
    - WHATSAPP : +62813-2938-6562
    - LINE : DOMINO1945.COM
    - No Hp : +855-8173-4523

    BalasHapus

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Flying Cute Pink Butterfly