Apa Aja Sih yang Kece di Bantul?


Hello semua, pernah nggak sih kamu pergi ke Jogjakarta, tepatnya di Bantul? Entah jalan-jalan, sekolah, atau kerja, bahkan tinggal, pokoknya di sono lah ya. Nah, kalau gue sendiri sih, sering, sering mudik, hehe. By the way, kali ini gue mau bahas semua yang ada di Bantul, Jogjakarta. Seperti apa? Langsung saja ini dia!
Pantai Parangtritis
Yow is, siapa sih yang nggak tahu sama pantai yang satu ini. Yup, pantai Parangtritis! Pantai ini terkenal banget jadi objek wisata pantai yang paling diminatri di Jogja. Pantai ini merupakan objek wisata dengan pemandangan berupa hamparan pasir pantai, gumuk pasir, pegunungan kapur, dan wisata spiritual. Pantai yang berjarak 29 km dari kota Jogjakarta ini mempunyai luas 1.187,20 ha. Nah, objek wisata yang dapat dinikmati banyak banget, ada Pantai Parangendog, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Depok. Anyway, Pantai Parangendog yang merupakan wilayah paling timur Parangtritis ada pemandangan pantai disertai gulungan ombak yang menggelegar menghantam tebing batu karang. Panorama matahari tenggelam a.k.a sunset bisa dinikmati dari sini disertai udara segar dari hembusan angin dari Samudra Indonesia.
Kalau di Pantai Parangkusumo sendiri, wisatawan bisa melakukan wisata spiritual dengan tirakat di Cepuri Parangkusumo, tempat Panembahan Senopati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, sang penguasa laut selatan. Wisatawan yang mau ziarah bisa mengunjungi makam Syekh Maulana Maghribi dan Syekh Bela Belu (tokoh penyebar agama Islam di Jawa), makam Ki Ageng Selohening (tokoh penyebar agama Buddha), dan Dipokusumo (anak ketiga Prabu Brawijaya dari Majapahit). BTW, aku juga pernah nonton Tau Gak Sih di Trans 7 kalau ada juga Gumuk Pasir Parangkusumo yang jadi tempat buat main sejenis ski atau apaan gitu (lupa, yang pasti seru banget).
Objek wisata pemandian air panas dan kolam renang air tawar bisa dijumpai di kawasan Parangtritis. Setiap wisatawan nggak dianjurkan (bahkan sampai dilarang) mandi di laut karena ombaknya terlalu besar dan tentu saja sangat berbahaya. Selain itu, wisatawan juga dilarang memakai pakaian berwarna hijau gadung atau merah, karena konon warna tersebut merupakan warna kegemaran Kanjeng Ratu Kidul. Maksudnya, kalau seandainya kita ke sana pakai baju warna tersebut, kita bisa-bisa serasa ‘dipanggil’ Kanjeng Ratu Kidul untuk ikut ke dalam laut bersamanya. Dan, ujung-ujungnya? Kita tenggelam, deh! Selain keindahan alamnya, Pantai Parangtritis juga menyajikan banyaknya pedagang souvenir khas dan kesempatan untuk naik andong keliling Parangtritis sambil liat keindahan pantai. Duuh, jadi keingat pengalaman deh!
Buat kamu yang hobi makan seafood, maka Pantai Depok (Depok bukannya kota asalnya Ayu Ting-Ting ya? Eh, bukan) yang berjarak 1,5 km arah barat Parangtritis. Pantai Depok berkembang sejak sekitar tahun 1997. Ceritanya, beberapa nelayan dari Cilacap mendarat di sini untuk menjual ikan hasil tangkapannya. Lama-lama mereka berbaur dengan petani setempat dan membangun Tempat Pelelangan Ikan Mina Bahari 45. Di lokasi ini berjajar banget rumah makan yang menyuguhkan berbagai masakan ikan laut hasil tangkapan nelayan. Walhasil, Pantai Depok merupakan primadona baru wisata kuliner di Yogyakarta. Tapi ingat, yang alergi seafood jangan coba-coba makan seafood disana, ya!
Labuhan
Labuhan adalah sebuah upacara tradisional yang diadakan setiap tahun di Pantai Parangtritis. Bicara soal sejarah upacara labuhan sendiri, konon menurut kepercayaan Jawa, setiap tempat mempunyai penguasa gaib berupa makhluk halus penunggu. Tapi bukan penunggu bis lewat ya! Gunung Merapi yang terletak di utara Kota Yogyakarta sendiri diyakini ditunggu oleh makhluk halus bernama Eyang Sapujagad. Samudra Indonesia yang biasa disebut Laut Selatan sendiri, terletak di selatan Kota Yogyakarta ditunggu oleh wanita cantik jelita bernama Kanjeng Ratu Kidul.
Panembahan Senopati sebagai raja Mataram berupaya menjaga keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan dalam masyarakat. So, iya menjalin komunikata, eh komunikasi dengan kedua makhluk halus tersebut. Salah satu berntuk komunikasinya adalah dengan bersemedi di tempat-tempat tersembunyi. Ketika Panembahan Senopati merasa udah saatnya mengambil alih  kekuasaan Kerajaan Pajang, ia bertama di Laut Selatan. Sementara pamannya, Ki Juru Mentani bertapa di Gunung Merapi.
Untuk menghormati ikatan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram penerus Panembahan Senopati, akhirnya setiap tahun diadakan labuhan di Pantai Parangtritis. Kalau labuhan nggak dilaksanakan alias diabaikan, ada kepercayaan kalau Kanjeng Ratu Kidul akan murka dengan mengirim tentara jin untuk menyebarkan penyakit dan berbagai musibah yang akan menimbulkan malapetaka bagi rakyat dan kerahaan. Kalau tetap dilaksanakan, maka sebaliknya Kanjeng Ratu Kidul akan memberikan perlindungan dan bantuan ke Mataram.
Labuhan sendiri sudah menjadi upacara adat Keraton Mataram sejak abad ke-XVII. Setelah Perjanjian Gianti tahun 1755 yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta di Solo dan Kesultanan Yogyakarta di Yogya, maka tradisi labuhan dilakukan oleh dua kerajaan Jawa tersebut. Labuhan pertama kali di Kesultanan Yogyakarta diadakan sehari setelah penobatan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultah Hamengkubuwono I tahun 1755. Selanjutnya, tradisi ini berlangsung sampai Sultan Hamengkubuwono ke VIII.
Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX, labuhan diadakan setelah ulang tahun Sultan. Sekarang, di masa Sultan Hamengkubuwono X, labuhan dilaksanakan lagi seperti dulu, yaitu sehari sesudah penobatannya menjad raja. Labuhan diadakan setiap tahun pada tanggal 30 bulan Rejeb karena Sultan Hamengkubuwono X dinobatkan hari Selasa Wage tanggal 29 Rejeb tahun Wawu 1921 (dalam penanggalan Jawa) atau 7 Maret 1989 (penanggalan Masehi).
Nah, mau tahu prosesi labuhan Sultan Hamengkubuwono X? Ini dia prosesinya!
Setibanya barang-banrang labuhan alias sesaji di Parangkusumo, rombongan abid dalem memasuki komleks berpagar yang di dalamnya ada Sela Gilang (batu yang dulu menjadi tempat Panembahan Senopati mengadakan pertemuan). Sela Gilang diyakini sebagai pintu gerban menuju kerajaan Kanjeng Ratu Kidul. Juru kunci yang memimpin pelaksanaan upacara membakan kemenyan, lalu menanam kuku, rambut, dan pakaian bekas Sultan Hamengkubuwono X di pojok kompleks. Lalu, juru kunci lagi-lagi membakar kemenyan dan mengasapi ketiga ancak yang berisi barang labuhan dan berangkat ke pantai untuk melabuhnya. Nah, sekitar 10 langkah dari garis pantai, juru kunci bersila menghadap laut melakukan sembah ke Kanjeng Roro Kidul sambil mengucapkan doa permohonan berbunyi:
“Hamba mohon permisi, Gusti Kanjeng Ratu Kidul. Hamba memberikan labuhan cucu Paduka Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan yang ke X di Ngayogyakarta Hadiningrat. Cucu paduka mohon pangestu, mohon keselamatan, mohon panjang usia, kemuliaan kerajaan, keselamatan negara di Ngayogyakarta Hadiningrat.”
Ketiga ancak tadi lalu segera dibawa ke tengah laut untuk dilabuh. Ancak paling depan dipersembahkan khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul, ratu dari semua makhluk halus di Laut Selatan. Ancak kedua dipersembahkan untung Nyai Roro Kidul, patih Kanjeng Ratu Kidul, dan ancak ketiga untuk Mbok Roro Kidul, pembantu kedua.
Nah, masyarakat yang menghadiri acara ini biasanya rame-rame berebut sebagian dari benda labuhan yang dihanyutkan ombak ke pantai. Menurut kepercayaan, barang-barang yang masih baru akan hanyut ke dalam laut karena dipakai oleh Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan barang-barang bekas seperti baju bekas Sultan dan bunga bekas sesaji bakal balik lagi ke pantai. Menurut kepercayaan lagi, barang-barang yang kembali terdampar di pantai tersebut punya kekuatan gaib karena dikirim lagi oleh Kanjeng Ratu Kidul untuk mengatasi segala gangguan dan penyakit. Beberapa orang menjadikannya sebagai jimat, benda yang difungsikan sebagai pusaka dan dipercaya punya kekuatan magis untuk membantu pemilikya menangkal gangguan alam. Yang mendapat barang-barang bekas labuhan berharap akan memperoleh kesejahteraan dan keberuntungan hidup.
Nah, kamu percaya nggak dengan hal-hal yang ada dalam labuhan? Percaya atau nggak, ya terserah kamu. Tapi yang jelas, kita tak boleh terlalu percaya dengan mitos atau kepercayaan yang bagaimanalah. Tapi kalau cuma mau seru-seruan, silahkan!
Rebo Wekasan
Masih soal upacara adat, kali ini ada rebo wekasan. Rebo wekasan merupakan suatu upacara tradisional yang terdapat di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul. Kalau bicara soal rebo wekasan, mama saya pernah cerita kalau sepupu dan bibi saya sering mengikuti acara ini setiap tahunnya. Tepatnya sih, di dekat sekolah sepupu aku yang ada di Pleret. Katanya, acaranya ini rame banget! Mana ada lemper raksasa lagi! Beneran? Yuk kita simak dulu info selengkapnya.
Kalau kita bicara sejarah upacara adat ini, rebo wekasan sendiri berasal dari kata rebo dan wekasan yang berarti hari Rabu terakhir di bulan Sapar. Pada tahun 1600, Keraton Mataram yang berkedudukan di Pleret lagi dilanda penyakit (pageblug) sehingga raja Mataram saat itu, Sultan Agung sangat prihatin. Akhirnya, ia bersemadi di Masjid Soko Tunggal, Desa Kerton. Dalam semadinya ia mendapat petunjuk dari Tuham imtuk membuat penolak bala supaya wabah itu teratasi.
Akhirnya, dipanggillah Kyai Sidik dari Wonokromo untuk membuat penolak bala berupa jimat yang berupa aksara Arab bertuliskan kalimat Basmalah (Bismillahirrahmannirrahim) sebanyak 124 bari dan dibungkus kain mori putih. Oleh Sultan Angung, jimat itu direndam dalam bokor kencana dan diminumkan kepada orang sakit. Ternyata mereka sembuh. Walhasil, makin banyak orang yang datang meminta air itu. Karena dirasa nggak cukup untuk semua orang, akhirnya Sultan Agung memerintahkan Kyai Sidik untuk membuang jimat itu di tempurang Sungai Opak dan Sungai Gajahwong. Berduyun-duyunlah orang berkunjung ke tempuran itu untuk membasuh muka, mandi, dan berendam agar mendapat keberuntungan.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono 1, Kyai Muhammad Fakih dititahkan membuat masjid pathok negoro di Desa Wonokromo bernama Masjid At-Taqwa. Awalnya, masjid itu dibuat dari anyaman bambu dengan atap dari anyaman daun alang-alang yang disebut welit. Karena keahliannya membuta welit, masyarakat sekitarnya menjuluki beliau Kyai Welit. Ia juga meneruskan tradisi rebo wekasan pada Rabu terakhir bulan Sapar tahun 1754 atau 1837 M. Dia membuat kue lemper yang dibagi-bagi ke masnyarakat sekitar.
Menurut beliau, kue ini mengandung nilai filosofis. Kulitnya dari daun pisang ibarat segala hal yang dapat mengotori akidah sehingga harus dibuang. Ketan ibarat kenikmatan duniawi, sedangkan isinya yang berupa daging cincang ibarat kenikmatan akhirat. Jadi, makan lemper punya arti kalau orang yang mau mendapat kebahagiaan dunia akhirat harus bisa menghilangkan kotoran jiwa agar bersih bak lemper yang sudah dikupas.
Peristiwa itu dianggap sebagai hari bersejarah bagi masyarakat Wonokromo sehingga diperingati setiap tahun. Upacara ini dianggap sebagai pengingat bahwa dulu telah terjadi musibah yang menelan banyak korban jiwa. Tradisi mengarak lemper sendiri diteruskan sampai kini dalam bentuk lemper raksasa sepanjang 2 ½ meter dengan diameter ½ meter! Wah, gede amat ya! Jadi pengen ikutan nimbrung ke sana deh.
Wedang Secang/Wedang Uwuh
Awal-awalnya sih, saya nggak terlalu kenal dengan wedang yang satu ini. Tapi, setelah saya iseng baca-baca soal wedang ini di tabloid Nova, wah, jadi pengen minum wedang yang satu ini, sampai-sampai waktu saya mudik dulu saya sampai minta oleh-oleh ramuan wedang ini sebanyak-banyaknya! Waah! Rasanya adem banget!
Nama wedang secang diambil karena salah satu bahannya adalah serutan kayu secang. Kalau wedang uwuh sendiri, kalau menurut tabloid yang pernah aku baca, wedang uwuh itu kalo bahasa Jawa berarti minuman ‘sampah’. Wedang secang yang warnanya merah ini adalah minuman favoritnya Sri Sultan HB IX yang berfungsi menjaga kesehatan. Badan yang masuk angin kalau minum wedang ini dalam keadaan hangat, pasti bugar lagi. Wedang secang sendiri terbuat dari serutan kayu secang, dua lembar daun cengkih yang udah kering (Kedua bahan ini sendiri berasal dari sampah-sampah yang ada di Makam Imogiri, dan hanya orang tertentu aja yang bisa memungutnya!  Eits, jangan takut dulu mendengar kata ‘sampah’ tadi. Mungkin saja kedua bahan ini dicuci dulu sebelum diolah lebih lanjut.), irisan kulit pohon kayu manis, merica putih, daun serai, cabe rawit (bukan nama acara di Indosiar yang dipandu Cinta Kuya sama Adul, lo), dan dicampur jahe yang sudah dibakar dan dipukul-pukul segepeng-gepengnya. Semua bahan dimasukkan ke dalam kendil tanah liat, lalu dipanaskan dengan air sampai mendidih. Setelah disaring, lalu dihidangkan dengan gula batu. Di kawasan sekitar Makam Imogiri sendiri, bahan ramuan wedang secang dijual sebagai oleh-oleh untuk peziarah. Jadi, untuk para peziarah, bisa membikin wedang secang sendiri di rumah, kok!
Dawet
Siapa sih yang nggak pernah minum dawet? Pastinya pada pernah semua, kan? Dawet di Yogyakarta juga ada kok! Di Yogya, dawet merupakan minuman pelepas dahaga yang cukup populer disini, termasuk di Bantul. Salah satu unsurnya adalah cendol. Untuk membuat cendol, panaskan tepung beras sampai mendidih dan tuang dengan saringan ke dalam baskom berisi air dingin. Tepung beras yang udah jatuh ke dalam air dingin akan mengental membentuk cendol. Masukkan cendol ke dalam mangkuk, tambahkan santan kelapa dan sirup gula jawa yang mak nyus banget. Untu menambah rasa sedap, tambahkan daun pandan wangi ketika membuat sirup kelapa. Di pasar tradisiolal, masih banyak penjual dawet yang menjajakan dagangannya dengan memakai tenggok (wadah besar dari anyaman bambu). Uuuh, jadi keingat cerita mama waktu kecil, dimana dulu ia sering minum dawet seger dari penjual dawet yang memakai tenggok. Eh, kalau menurut aku sendiri, rasa dawetnya enak, seger, manis, campur aduk deh pokoknya! Waktu aku mudik beberapa tahun lalu kan masih bulan puasa, nah aku sering dibeliin dawet dari penjual yang berjualan di dekat sebuah pesantren di Imogiri. Rasanya enak banget! Sama juga ketika mau balik lagi ke Bangka, dimana beberapa hari sebelumnya aku juga ngerasain enaknya minum dawet yang dijual pedagang yang berjualan menggunakan motor di kompleks sebuah SMA tak jauh dari pesantren tadi.
Makam Imogiri
Makam Imogiri punya nama lain Makam Pajimatan yang terletak di Kelurahan Girireja dan Wukirsari, Imogiri, Bantul, 17 km arah tenggara Kota Yogyakarta. Makam ini berada di atas Bukit Merak yang termasuk rangkaian Pegunungan Seribu dengan ketinggian antara 35-100 dpl. Makam ini dibangun oleh Sultan Agung yang bertakhta di Kerta, Mataram, tahun 1533-1567 penanggalan Jawa. Pada saat pembangunan makam, Panembahan Jumulah, paman Sultan Agung yang berada di sana tiba-tiba meninggal dan dimakamban di tempat itu.  Sultan Agung kecewa banget karena calon makamnya didahului pamannya. Akhirnya, ia pun memindahkan calon makamnya ke Bukit Merak yang dikenal sebagai Makam Imogiri saat ini.
Luasnya mencapai 10 ha dan dibagi empat kawasan, yaitu Kesultanan Agung, Paku Buwanan, makam raja-raja Yogyakarta, serta makam raja-raja Surakarta. Makam raja-raja Yogyakarta terdiri dari 3 bagian yaitu Kasuwargan, Besiyaran, dan Saptarengga. Makam Surakarta juga terdiri atas 3 bagian, yaitu Kasuwargan (Bagusan) Surakarta, Kapingsangan, dan Girimulya. Oiya, dulu aku pernah ke sini, disana banyak banget pedagang yang berjualan souvenir segala macam, makanan, pemandangan wisatawan berfoto, dan tentunya, tangga yang super duper tinggi dan jumlah anak tangganya berjumlah ratusan. Aku sendiri, baru beberapa anak tangga, udah capek alias nyerah duluan! Akhirnya, suatu saat nanti kalau aku balik ke sono lagi, aku pengen bisa naik semua anak tangga itu.
Aku juga pernah nonton acara di TV One dan ANTV, kalau mau masuk ke makam Sultan Agung, orang harus memakai busana khusus yang tradisional banget. Pria harus memakan pakaian peranakan, sementara wanita harus memakai kemben.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Flying Cute Pink Butterfly